Ambisi besar pernah membara dalam diri Raja Abrahah dari Yaman. Ia berupaya keras membangun sebuah tempat suci yang mampu menyaingi kemegahan Ka’bah di Makkah. Dari hasrat ini, lahirlah Al-Qullais, sebuah katedral super megah di Kota San’a. Namun, upaya ambisius ini pada akhirnya berakhir sia-sia.
Motif di Balik Pembangunan Al-Qullais
Ternyata, motif Abrahah tidak semata-mata soal ibadah, melainkan didorong rasa iri terhadap perkembangan ekonomi Makkah. Sebab, kala itu, Ka’bah menjadi pusat keramaian dan perdagangan. Para peziarah dari seluruh penjuru Arab berdatangan, membawa keuntungan finansial yang besar bagi Makkah. Sementara itu, popularitas kuil-kuil di wilayah kekuasaannya tak mampu menyaingi pesona Baitullah (Rumah Allah).
Oleh karena itu, Abrahah segera memerintahkan arsitek terbaiknya untuk mendirikan rumah ibadah yang luar biasa. Hasilnya sungguh memukau: Al-Qullais berdiri megah dengan pintu berlapis emas, lantai perak, dan pondasi kayu cendana—bangunan yang disebut-sebut tiada tandingannya di masanya. Dalam suratnya kepada Raja Najasyi di Habsyah, Abrahah menegaskan ambisinya: “aku akan terus mengalihkan perhatian manusia dari Ka’bah ke gereja yang kubangun.”
Rencana Gagal dan Amarah Sang Raja Memuncak
Meskipun demikian, tujuan Abrahah tak pernah tercapai. Orang-orang Arab tetap berbondong-bondong setia ke Ka’bah, bahkan ada yang mengejek Al-Qullais. Kabar penghinaan ini kemudian membuat sang raja murka besar, dan ia bersumpah akan menghancurkan Ka’bah itu sendiri.
Selanjutnya, Abrahah memimpin pasukan besar, lengkap dengan gajah perang, bergerak menuju Makkah. Di tengah perjalanan, mereka merampas harta milik warga Quraisy, termasuk 200 unta milik Abdul Muthalib, kakek Rasulullah SAW.
Menariknya, Abdul Muthalib tetap tenang saat bertemu Abrahah. Ia hanya meminta untanya dikembalikan. Selain itu, ia menyampaikan pesan berani: “Demi Allah, kami tak ingin berperang dan kami tak punya kekuatan untuk melawan kalian. Akan tetapi, jika Abrahah ingin menghancurkan Baitullah, lakukan sesuka hati. Namun, aku yakin, Allah tak akan membiarkan rumah-Nya dihancurkan.”
Mukjizat: Pasukan Gajah Lumpuh dan Serangan Burung Ababil
Begitu mendekati Makkah, sebuah keanehan terjadi. Tiba-tiba, gajah-gajah Abrahah menolak melangkah maju menuju Ka’bah. Meskipun dipukul dan dipaksa, mereka terus berbalik arah.
Tak lama setelah itu, rombongan burung Ababil (Pasukan Burung) datang membawa batu-batu panas. Batu-batu tersebut dijatuhkan ke arah Pasukan Gajah hingga mereka binasa. Tentara panik dan berhamburan, namun hampir tak ada yang selamat.
Berdasarkan tafsir Jalalin, setiap kerikil yang dibawa burung itu sudah ditulisi nama korbannya dan mampu merobek tameng baja. Sementara tafsir lain menyebutkan bahwa burung-burung itu membawa penyakit cacar yang menyebabkan bisul panas dan kematian. Serangan dahsyat ini membuat sisa-sisa tentara Abrahah lari kocar-kacir. Abrahah sendiri akhirnya kembali ke San’a dalam malu dan disebut meninggal tak lama setelah itu.
Warisan Kisah Ashabul Fil
Pada akhirnya, rencana Abrahah untuk menghancurkan Ka’bah gagal total. Perkataan Abdul Muthalib terbukti benar: Ka’bah adalah milik Allah SWT yang dilindungi-Nya. Kisah luar biasa ini, yang dikenal sebagai Kisah Ashabul Fil (Pasukan Gajah), diabadikan secara abadi dalam Surah Al-Fil di Al-Qur’an, menjadi bukti nyata kuasa Allah dalam menjaga rumah suci-Nya. Sampai hari ini, Ka’bah tetap kokoh berdiri sebagai pusat ibadah umat Muslim sedunia.


